Kembali Rugi, Maskapai Garuda Kehilangan Rp 868 Miliar

Sejak resmi memakai nama Garuda Indonesia, maka maskapai nasional kebanggaan bangsa ini sudah berusia 69 tahun. Dikenal dengan tarif yang cukup mahal bagi kalangan masyarakat umum, maskapai Garuda memang identik dengan kalangan menengah ke atas. Di saat banyak maskapai lokal atau internasional berlomba-lomba dengan tarif murah, Garuda masih pede dengan level mereka. Namun kabar terbaru justru menyebutkan kalau Garuda merugi lagi.

 

Detikfinance melaporkan jika PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat kerugian lagi di kuartal pertama 2018 yang mencapai USD 64,3 juta (sekitar Rp 868 miliar). Dibandingkan periode sama pada tahun 2017, kerugian memang menurun karena tahun lalu menyentuh USD 101,2 juta (sekitar Rp 1,36 triliun). Kendati rugi lagi, Pahala N Mansury selaku Dirut Garuda Indonesia berdalih jika pendapatan operasional perusahaan bandar togel online meningkat 7,9% jadi USD 983 juta (sekitar Rp 13,2 triliun).

 

Dalam keterangannya, Pahala menyebut kalau Garuda melakukan optimalisasi aset, meningkatkan pelayanan hingga infrastruktur IT lebih baik agar mendongkrak pendapatan. Bahkan jumlah penumpang Garuda meningkat 5% dibanding tahun lalu dengan kuartal I 2018 mencapai 8,8 juta orang. Tingkat keterisian penumpang pun mencapai 71,4%.

 

Meskipun begitu adanya tren penurunan kinerja operasional industri penerbangan global, harga avtur meningkat hingga penguatan dolar AS membuat Garuda masih rugi. Pahala pun menyinggung dampak erupsi gunung Agung di Bali yang mempengaruhi kinerja rute internasional Garuda di mana beberapa penerbangan dari Jepang, Korea Selatan dan China masih belum pulih hingga akhir Februari 2018.

 

Kinerja Perusahaan Buruk, Pilot & Staff Garuda Mogok

 

Tak cuma harus menerima kerugian lagi, Garuda juga harus siap terhadap aksi mogok besar-besaran para pilot dan karyawan perusahaan. Dilansir Kompas, hingga Jumat (4/5) kemarin, Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Serikat Bersama Serikat Karyawan Garuda Indonesia tetap kokoh pada pendirian mereka untuk mogok kerja jika jajaran direksi tidak dirombak dan diganti mereka yang paham dunia penerbangan.

 

Kapten Bintang Hardiono selaku Presiden APG menjelaskan kalau kekecewaan  mereka bermula dari RUPS April 2017 yang membuat hilangnya posisi Direktur Operasi dan Direktur Teknik sehingga audit AOC terkendala dan pesawat Garuda tak bisa beroperasi. Selain itu perubahan sistem operasi maskapai menjadi Sabre juga mengakibatkan kekacauan karena sosialisasi yang singkat. Tak hanya itu saja, dihapusnya mobil jemputan untuk kru kabin, pergeseran jam kerja saat puasa hingga tak ada lagi kenaikan gaji berkala dengan alasan efisiensi, hingga pemangkasan jam terbang pilot membuat para karyawan Garuda makin berang.

 

Sepanjang 2017, Garuda Rugi Rp 2,88 Triliun!

 

Meskipun dianggap sebagai maskapai kelas atas, Garuda justru mengalami penurunan saham yang signifikan. Kapten Bintang dengan terbuka menyebutkan kalau harga saham Garuda awalnya Rp 750 per lembar. Namun pada tahun 2017 mencapai Rp 480 per lembar dan saat ini di bawah Rp 290 per lembar. Tak heran kalau di sepanjang 2017, Garuda mencatat kerugian fantastis yakni USD 213,4 juta (sekitar Rp 2,88 triliun).

 

Dari pihak Garuda, mereka menilai kerugian itu karena total pengeluaran meningkat 13% yang diakibatkan kenaikan harga avtur sebanyak 25%. Tak hanya itu, Garuda pada 2017 harus membayar pengampunan pajak dan denda di Australia yang mencapai USD 145,8 juta. Tak heran kalau kini Garuda ditantang lebih baik di 2018.