Sri Mulyani Tersipu Malu diberi Selamat Jokowi di Depan Kabinet Kerja

Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia, tersipu malu saat Presiden Jokowi menyinggung penghargaan yang diterimanya itu sebagai Menteri Terbaik Dunia. Apalagi pujian itu disampaikan oleh Jokowi di depan seluruh menteri Kabinet Kerja dan Kepala Lembaga.

Diberi Selamat Jokowi

“Pertama-tama tentu saya ingin mengucapkan selamat lebih dahulu pada Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang mendapatkan sebuah kepercayaan menjadi menteri terbaik dunia. Satu-satunya menteri terbaik di dunia,” ucap Jokowi ketika membuka sidamg kabinet paripurna yang digelar di Istana Negara pada hari Senin (12/2) siang.

Tepuk tangan dan gelak tawa riuh dari para menteri Kabinet Kerja langsung terdengar. Sementara itu Sri Mulyani hanya tersenyum dan tersipu malu seraya menggelengkan kepala ke arah Presiden Jokowi. Tidak hanya itu, suasana sidant kabinet paripurna juga mencair seketika ketika Presiden Jokowi memilih secara langsung menyalami Sri Mulyani. Dan sekali lagi tepuk tangan meriah mewarnai ruangan. Menteri Sekretaris Negara, KSP Moeldoko dan juga Pramono Anung, Sekretaris Kabinet pun juga berdiri saat Jokowi berjalan menuju Sri Mulyani.

Wanita yang akrab dipanggil Anie itu pun menyambut salam dari kepala negara. Ia pun berjalan ke arah Jusuf Kalla dan juga bersalaman. Sebelum memasuki ruangan sidang, Anie juga sempat mengatakan bahwa ia sudah diberitahu Panitia World Government Summit sepekan sebelum dirinya menerima penghargaan tersebut.

Sudah Tahu Sebelumnya

Ia pun bercerita bahwa ada 8 menteri yang datang dari banyak negara juga ikut meramaikan jajaran nominasi. Ernst&Young yang berdiri sebagai lembaga independen mendapatkan masukan dari seluruh dunia swasta, media sosial,  media massa dan juga investor.

“Leadership presiden dalam komitmen membuat kami semua berkiprah secara maksimal. Ini masih reform bersama-sama, kebetulan saja nama Togel singapura saya yang muncul. Tentunya yang bangga ya anak buah di Kemenkeu,” ucap Sri Mulyani sembari tertawa.

Kendati demikian, ia menambahkan bahwa penghargaan itu menjadi beban berat untuknya untuk bisa terus menggenjot kinerja anak buahnya supaya APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) bisa membaik.

Jokowi Juga ‘Tepuk Dada’ Sri Mulyani

Presiden Jokowi juga termasuk yang berbahagia atas prestasi yang diraih oleh Sri Mulyani ini. Penghargaan yang diterima oleh salah satu menterinya itu merupakan acara penghargaan global sejak tahun 2016 yang lalu. Dan memang hanya 1 orang menteri dari seluruh dunia saja yang diberikan penghargaan itu.

“Ini merupakan pengakuan dunia dan hanya satu orang menteri saja. Saya kira kita semua bangga ya,” ucapnya ketika ditemui di Gedung Pancasila hari Senin (12/2) kemarin.

Menurut dirinya hal itu sangat patut untuk diapresiasi karena penilaian dilakukan oleh lembaga Ernst&Young dan penghargaan tersebut diserahkan secara langsung oleh Pemimpun Dubai, Syeikh Mohammad bin Rashid Al Maktoum.

Sri Mulyani yang pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksanaan Bank Dunia tersebut tercatat sebagai menteri yang pertama dari Asia yang menerima penghargaan itu. Dan menanggapi hal tersebut, Jokowi menyatakan bahwa penghargaan menjadi sebuah bentuk kepecayaan dari dunia pada perekonomian Indonesia yang mana diyakini akan semakin membaik.

“Saya kira penilaian itu menunjuk ka manajemen ekonomi makro ya, pengelolaan fiskal, APBN Indonesia ada di posisi yang sudah benar, hati-hati dan juga efektif,” terangnya lebih lanjut. Sebelumnya Sri Mulyani telah mengatakan bahwa penghargaan ini didedikasikan bagi Presiden Jokowi yan telah mendorongnya untuk reformasi kebijakan demi pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

Pesona dari Joko Widodo dan Popularitas Partai

Hasil Survey terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny JA menunjukkan bahwa Partai Golkar menjadi satu-satunya partai yang mana trennya naik lebih dari 1 persen dalam periode Desember 2017 sampai dengan Januari 2018.

Partai Golkar Makin Lengket dengan Jokowi

Akhir tahun yang lalu, sebanyak 13,8% koresponden memutuskan untuk memilih Golkar apabila pemilihan legislatif dilakukan saat itu juga. Angka tersebut menjadi meningkat yakni menjadi 15,5% tahun ini.

Hendri Satrio, pengamat politik berpendapat bahwa hal itu terjadi karena sekarang ini Golkar tengah benar-benar sangat “dekat” dengan Presiden Jokowi. “Golkar ini memang imagenya sekarang sudah didekatkan dengan Jokowi. Sampai saat ini sosom calon presiden paling kuat ya Jokowi,” ungkap Hendri dikutip dari CNN Indonesia.

Kedekatan Partai golkar dengan Presiden Jokowi mulai terlihat semenjak Menteri Perindustrian, Airlangga Hartati menjadi Ketua Umum dari Partai Golkar. Ia menggantikan Setya Novanto yang terjerat kasus e-KTP (KTP elektronik). Kemudian juga masuknya Sekretaris Jenderal Golkar ketika itu Idrus Marham menjadi Menteri Sosial menggantikan Kofifah Indra Parawansa yang mana mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Timur 2018.

Kedekatan  ini dinilai semakin terlihat juga saat Jokowi “mempertahankan” Airlangga di Kabinet Kerjanya. Dia ketika itu menjadi satu-satunya pembantu presiden yang mana merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Pesona Jokowi

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ahil Psikologi Politik dari Universitas Indonesia yakni Hamdi Muluk. Menurut dirinya hal yang terjadi pada Golkar ini wajar karena adanya sistem personalisasi politik yang ada di Indonesia. Pesona tokoh publik seperti Presiden Jokowi bisa mengerek juga popularitas partai politik.

“Benar, kemarin Golkar turun sedikit karena mereka tergoncang dengan bermacam=macam kasus. Kemudian Airlangga kan naik dan mengusung Jokowi dan dia juga punya efek elektoral. Artinya ya, pesona Jokowi untuk sekarang ini masih tinggi,” ungkapnya.

Menurut Hamdi juga, penguatan popularitas dapat dirasakan partai politik yang lainnya jika menemukan tokoh yang populer di masyarakat. Hamdi sendiri menilai bahwa mengedepankan program bioskop online dan juga ideologi untuk mengikat pemilih yang ada di Indonesia tak begitu berhasil ketimbang popularitas.

“Basis ideologi jadi bentuk platform dan juga kebijakan partai itu kabur di masyarakat Indonesia. Orang Cuma melihat sosok. Hari ini Indonesia memanglah semakin mengarah ke personalisasi politik,” imbuhnya menjelaskan lagi.

Ia juga berpendapat bahwa hal ini adalah sebuah alarm buruk untuk perpolitikan Indonesia karena identitas dan ideologi partai makin kabur dan susah sekali dibedakan satu dengan yang lainnya karena adanya personalisasi politik. Namun hal itu bakal sulit dihentikan apabila partai politik masih sangat banyak dan bertambah terus menerus.

Di sisi yang lainnya, ia mengungkapkan bahwa Pilkada akan menjadi ajang taruhan kemenangan partai di dalam pemilihan legislasi dan pemilihan presiden tahun depan. Popularitas diyakini akan meningkat jika bisa menempatkan tokoh berkualitas di daerah. “Kalau partai mengaitkan dengan tokoh-tokoh yang sedang naik, maka ya bisa jadi bisa mengerek popularitas dan juga elektabilitas dari partai tersebut. Jadi partai ini berlomba untuk mendukung tokoh yang laku di masyarakat tentu saja, ideloginya cocok atau tidak, itu urusan belakang,” kata Hamdi.

Nampaknya persaingan partai dengan menggunakan tokoh publik yang sedang naik daun baim politisi atau tokoh publik lainnya akan digunakan beberapa partai yang kan unjuk gigi di Pilkada 2018 bulan Juni mendatang juga.