Sinopsis Doctor Sleep, Sekuel Mendebarkan Setelah The Shinning

Sudah kah anda menonton Doctor Sleep? Sekuel film horor legendaris yang sudah banyak dikenal oleh pecinta film dunia, The Shinning, yang akhirnya tayang pada tanggal 6 November 2019 kemarin di layar lebar kesukaan anda? Jika belum, berikut ini lah synopsis singkatnya kalau-kalau anda tertarik mengulang scene horor yang ada di The Shinning bahkan akan lebih ‘menakjubkan.’

Synopsis Film Doctor Sleep

Film ini sendiri bercerita tentang kondisi Danny  Torrance setelah lebih dari 39 tahun ia berhasil keluar dari Hotel Overlook yang pasalnya mengancam dirinya pada tahun 1980. Film yang diadaptasi dari novel legendaris mahakarya Stephen King ini pasalnya menunjukkan usaha Danny untuk menyembuhkan trauma karena segala macam teror bandar togel singapore yang dialaminya sejak ia tinggal di Hotel Overlook bersama dengan kedua orang tuanya, Wendy dan Jack Torrance.

Ia pun berusaha menghilangkan jati diri sebagai The Shining dengan cara bekerja sebagai salah satu staf di sebuah rumah sakit. Saat itu Danny merasa musuh paling besarnya sekarang ini adalah dirinya sendiri. ia tidak menyadari bahwa True Knot, musuh barunya, sudah hadir di sana dan mengancam ngawa para The Shining, termasuk juga dirinya.

True Knot adalah kelompok yang mana memangsa The Shining. Mereka pasalnya ‘mengambil alih’ kekuatan The Shining untuk bisa bertahan hidup. Sampai pada suatu hari, akhirnya, Abra (sahabat pena Danny), muncul. Di sana ia memberi tahu soal kondisi itu dan meminta bantuan Danny.

Akan tetapi, Danny meminta Abra bersembunyi dan tidak lagi menggunakan kemampuannya supaya bisa terhindar dari The Knot. Kondisi kemudian tidak lah terjadi seperti yang diharapkannya. Danny pada akhirnya memilih untuk membantu Abra. Hal itu lalu membuat dirinya mesti kembali menghadapi mimpi buruk dan juga trauma yang sudah lama dikuburnya dalam-dalam, yaitu Hotel Overlook.

Walaupun sama-sama berangkat dari novel yang ditulis oleh Stephen King, harus diakui bahwa Doctor Sleep ini berbeda dari pendahulunya. Film yang mana berada di bawah tangan dingin Mike Flanagan ini bergenre fantsy thriller. Sedangkan Stanley Kubrik membuat film The Shinning jadi film bergenre horror thriller.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Mike Flanagan sudah dikenal juga dengan beberapa film ciamiknya. Sebut saja Oculus, Absentia. Oujia: Origin of Evil, Hush dan Gerald’s Game. ia juga menyutradarai serial horor The Haunting of Hill House.

Jadi, bisa dibayangkan bahwa Doctor Sleep ini akan menambah deretan karya thriller sutradara 41 tahun ini. film berdurasi 2 jam 31 menit ini dibintangi oleh Ewan McGregor, Kyliegh Curran. Cliff Curtis dan Rebecca Ferguson.

Siap Lebih Mendebarkan dari The Shinning

Sekuel film horor The Shinning ini dijanjikan bakal lebih mendebarkan ketimbang The Shinning. Novel yang diterbitkan oleh Stephen King pada tahun 2013 ini menjadi salah satu novel terlaris di tahun itu. dilansir dari CNN Indonesia, film The Shinning dianggap sangat ideal sebagai film bergenre horor yang menampilkan jalan cerita dan juga artistic yang mampu mengobrak-abrik emosi penontonnya apalagi membuat jantung berdegub kencang.

Salah satu adegan yang paling mendebarkan misalnya saat Danny menaiki sepeda mininya dan bertemu hantu gadis kembar di lorong hotel. Setelah ditayangkan, King juga sempat menyatakan kurang suka dengan intepretasi sang sutradara, Kubrick.

Namun untuk film Doctor Sleep ini, King berharap Mike bisa mewujudkan apa yang ia tulis di novelnya.

Twivortiare, Kisah Dua Insan yang Bertemu Kembali

Apakah anda adalah penggemar film drama romantis? Apa anda juga penggemar buku-buku Ika Natasha? Setelah sukses dengan film Critical Eleven yang berangkat dari bukunya, Ika Natasha sekarang bersiap dengan film Twivortiare yang masih menggandeng Reza Rahadian sebagai pemeran utamanya. Namun tak lagi Bersama dengan Adinia Wirasti, kali ini Reza Rahadian beradu acting dengan aktris Raihanun.

Synopsis Cerita Twivortiare

Film ini adalah film yang bergenre drama romantis yang mengisahkan drama kehidupan percintaan antara Beno (Reza Rahadian) dan juga Alexandra (Raihanun). Karakter Beno dalam film ini adalah seorang dokter ahli bedah yang sukses. Sedangkan Alexandra merupakan seorang banker yang mapan dan sukses juga.

Keduanya jatuh cinta saat pertama kali bertemu dan menjalin cinta selama beberapa bulan lamanya. Lalu mereka akhirnya memutuskan untuk menikah. Setelah pernikahan mereka berjalan selama 2 tahun, keputusan terberat harus mereka ambil, mengakhiri hubungan mereka sebagai suami istri.

Yang menyebabkan hal tersebut terjadi adalah kesibukan dan juga keributan yang selalu saja mengisi kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. Bahkan keributan itu tak berhenti sehingga mereka memutuskan untuk bercerai saja.

Setelah keduanya bercerai, keduanya menjalani kehidupan mereka masing-masing. alex memiliki pacar baru yang bernama Denny (Denny Sumargo). Perlahan, Alex bisa move on dari Beno.

Namun secara kebetulan, Alex dan Beno bertemu kembali. Dan saat itu cinta lama yang sudah padam entah mengapa bersemi kembali. Alex kemudian memutuskan hubungannya dengan Denny dan Beno akhirnya kembali lagi ke kehidupannya. Setelah mereka melewati banyak drama, akhirnya mereka mau saling memaafkan dan kembali Bersama lagi.

Dalam film bandar togel terbaik ini ada konflik tentang pekerjaan, impian, dan juga sosok orang ketiga yang bisa saja muncul kapan saja dalam biduk rumah tangga.

Tak Ragukan Akting Aktor dan Aktrisnya

Film yang disutradarai oleh Benni Setiawan, alumni IKJ, yang juga pernah menyutradarai sejumlah film misalnya Cinta 2 Hati (2010), 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010), Laskar Pelangi 2: Edensor (2013) dan Madre (2013) serta masih banyak lagi yang lainnya. Beni bahkan tak Cuma jadi sutradara, namun jadi penulis film Twivortiare ini.

Tidak hanya Reza Rahadian dan Raihanun saja yang terlibat dalam film ini, ada beberapa aktor dan aktris papan atas lainnya yang juga bergabung di dalam film ini. Misalnya saja ada Denny Sumargo, Arifin Putra, Anggika Bolsteri, Roy Marten, Citra Kirana, Lydia Kandau dan Ferry Salim serta masih banyak yang lainnya.

Tak diragukan lagi kalau kita berbicara tentang acting Reza Rahadian yang sebelumnya secara ciamik membawakan peran utama dalam Critical Eleven yang mana juga film adaptasi dari novel Ika Natasha. Sementara untuk Raihanun sendiri, siapa yang meragukan kemampuan aktingnya? Sejumlah film telah ia perankan misalnya Badai Pasti Berlalu (2007), The Lovely Man (2011) dan juga yang paling baru serta menyita perhatian banyak orang adalah 27 Steps of May (2019). Raihanun juga sempat beberapa kali terlibat di FTV dan sinetron-sinetron Indonesia.

Official trailer dari film Twivortiare ini sudah dipublish pada tanggal 29 Juni 2019 lalu dan sudah ditonton sebanyak 2,1 juta kali dan mendapatkan komentar lebih dari 653 ribu serta disukai lebih dari 8,2 juta likes. Wah, keren banget!

Film dengan durasi 103 menit ini dijadwalkan akan tayang pada tanggal 29 Agustus 2019 mendatang.

Review Film All The Money In The World

Penikmat film di tanah air semakin banyak  mendapat alternatif tontontan film yang menarik di bulan ini, seperti All the Money in the World. Deretan actor dan aktris yang turut bermain adalah Charlie Plummer, Michelle Williams, Mark Wahlberg, serta Christopher Plummer.

 

Film sepanjang 132 menit ini diadaptasi dari buku karya John Pearson berjudul Painfully Rich: The Outrages Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J.Paul Getty yang diangkat dari kisah nyata.

 

Film ini dibesut oleh sutradara Ridley Scott yang sebelumnya sukses menggarap film Gladiator, Blade Runner, dan The Martian.

 

Perlu Anda ketahui bahwa sejak sebelum diluncurkan film ini telah menimbulkan berbagai kontroversi, pertama adalah actor yang sebelumnya didapuk untuk memerankan J.Paul Getty tiba-tiba diganti karena yang bersangkutan terlibat kasus pelecehan seksual.

 

Berikutnya, saat syuting ulang dilakukan karena actor utamanya diganti, diketahui bahwa gaji Mark Walhberg jauh lebih tinggi daripada Michelle Williams. Sang aktris hanya dibayar US$ 1.000 sementara Mark menerima US$ 1.5 juta.

 

Walaupun bukan kesalahan Wahlberg, tetapi publik banyak menyerangnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendonasikan seluruh gajinya Judi Online untuk kampanye Time’s Up yang mengecam kasus diskriminasi di lingkungan kerja serta pelecehan seksual.

 

Synopsis

Film ini berlatar tahun 1973 saat  J.Paul Getty III(Charlie Plummer) yang merupakan cucu dari pebisnis minyak sukses serta salah satu orang terkaya di dunia J.Paul Getty, diculik oleh sekelompok criminal di kota Roma, Italia. Mereka menuntut tebusan US$ j 17 juta dari sang kakek.

 

Kondisi menjadi semakin genting karena faktanya ibu dan ayah Paul telah bercerai. Demi keselamatan sang anak, Gail Harris (Michelle Williams) pun memohon sekaligus memaksa kepada mantan mertuanya untuk membayar uang tersebut. Kakek Paul menolak membayar dana tersebut walaupun sebenarnya ia sangat menyayangi cucunya. Di lain pihak ia meminta orang kepercayaannya, Fletcher Chase untuk membebaskan Paul sang cucu dengan berbagai cara tanpa harus mengeluarkan uang tebusan sedikit pun.

 

Cinquanta (Romain Durais), salah satu penculik Paul lambat laun mulai jatuh kasihan kepada anak itu hingga mereka menjadi semakin dekat mengingat penculikan tersebut berlangsung dalam waktu yang semakin lama. Selain itu Cinquanta juga menghubungi Gail untuk bernegosiasi tentang uang tebusan sekaligus memberi kabar keadaan Paul.

 

Tak disangka Fletcher yang muak kepada bos-nya akhirnya membelot dan beralih mendukung Gail dengan terus menekan Getty agar mau membayar tebusan bagi sang cucu. Sang ibu dan mantan orang kepercayaan Getty pun bekerjasama sambil berkejaran dengan waktu untuk membebaskan Paul. Film ini pada akhirnya mengungkapkan bagaimana uang bisa begitu mengubah seseorang.

 

Review

Beberapa adegan yang cukup menarik pada film ini salah satunya adalah saat sekumpulan pekerja menghitung uang tebusan secara manual karena pada saat itu belum ditemukan mesin penghitung uang. Selain itu adegan saat Paul disiksa oleh gerombolan penjahat agar keluarganya mau membayar tebusan pun disajikan cukup apik, terutama oleh kekuatan acting Charlie Plummer.

 

Ia pun sempat melakukan upaya kabur dari para penculiknya dengan menggunakan berbagai barang rongsokan di tempatnya disekap untuk membuat bangunan tersebut terbakar. Selain Charlie Plummer yang sukses menampilkan sosok sang cucu jutawan yang “rapuh”, Michelle Williams pun sangat pas memerankan Gail Harris yang membuat dirinya menjadi kuat demi keselamatan putra kesayangannya.

 

Yang menjadi kelemahan film ini adalah plot cerita awal yang terlalu lambat dan bertele-tele serta perpindahan adegan yang kurang mulus sehingga agak membingungkan.

Review Film 12 Strong

Bagi Anda para fans actor tampan Chris Hemsworth, setelah Thor-Ragnarok, satu lagi film produksi Hollywood yang dapat menjadi rekomendasi untuk disaksikan di akhir pekan ini adalah 12 Strong. Film bertema peperangan yang berkaitan dengan tindak teroris ini juga dibintangi oleh Michale Pena serta Michael Shannon, selain actor Chris Hemsworth sebagai Kapten Mitch Nelson.

 

Film sepanjang 130 menit ini adalah sebuah adaptasi novel dengan judul Horse Soldiers karya Doug Stanton, yang mengisahkan cerita nyata pasukan khusus Amerika Serikat yang ditugaskan sesaat setelah terjadinya serangan 11 September 2001.

 

Sutradara film ini adalah Nicolai Fuglsig yang juga seorang jurnalis foto asal Denmark serta film ini merupakan debut pertamanya sebagai film fitur. Sebelumnya ia lebih banyak menggarap film-film documenter seperti Return of the Exiled dan sukses meraih penghargaan Gold Lion dalam Cannes Lions International Advertising Festival. Selain itu Fuglsig juga pernah menyabet dua penghargaan DGA pada kategori Outstanding Directorial Achievement in Commercials.

 

Synopsis 12 Strong

Cerita berawal dari 12 orang pasukan khusus Amerika Serikat yang ditugaskan ke Afghanistan hanya beberapa hari pasca serangan terror Domino Qiu Qiu yang meluluh-lantakkan gedung WTC di 11 september 2001.

 

Pada film ini Anda menyaksikan sajian kisah drama yang dominan dengan mengawali cerita dari dalam rumah saat Mitch Nelson sedang bermain dengan putri kecilnya di waktu cuti kerja. Demi terlihat dramatis, putri Mitch-lah yang pertama kali menyaksikan peristiwa terror WTC tersebut di televisi.

 

Kondisi ini mendorong Mitch untuk terjun ke medan perang setelah sebelumnya mengajukan permintaan pindah ke divisi lain demi menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya. Akhirnya ia memimpin tim-nya berangkat ke Afghanistan sambil membawa misi menaklukkan Al-Qaeda dan Thaliban. Sebelum berangkat ia berjanji kepada sang istri bahwa ia akan kembali dengan selamat.

 

Keadaan yang hampir sama juga terjadi pada keluarga tentara lainnya, Hal Spencer (Michael Shannon) berangkat diiringi kesedihan istri dan anaknya, sementara di kediaman Sam Diller (Michael Pena), sang istri terlihat berusaha tabah di hadapan suaminya.

 

Saat tiba di pangkalan militer Amerika di Uzbekistan, tim Amerika harus bekerjasama dengan Jendral Dostum (Navid Negahban) yang seorang jenderal Aliansi Utara. Ini rupanya menimbulkan masalah tertentu karena kedua belah pihak sama-sama menaruh curiga, sementara di sisi lain jumlah tentara yang mereka miliki jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh.

 

Dengan berbagai keterbatasan tersebut Mitch dan Dostum harus menundukkan pasukan teroris yang mempunyai beragam senjata perang canggih, termasuk rudal dan tank-tank besar. Untungnya mereka masih mendapat bantuan dari angkatan udara militer AS, tetapi pada saat-saat yang paling berbahaya serangan udara justru tak lagi dapat diandalkan.

 

Tak ada pilihan lain selain terus maju dengan pasukan mereka yang hanya berjumlah ratusan serta peralatan seadanya untuk menghancurkan gerombolan Al Qaeda dan Taliban.

 

Review

Genre drama tampaknya lebih mendominasi film ini untuk menunjukkan bahwa seorang kapten militer yang seharusnya terlihat kuat di berbagai keadaan juga memiliki sisi manusiawi dimana ia merasa galau, sedih, dan terharu. Penonton juga akan turut terhanyut menyaksikan kesedihan keluarga yang kepala keluarganya harus bertugas ke medan perang.

 

Selain drama penonton juga akan dicekam suasana tegang saat beberapa serangan udara melesat atau saat musuh meledakkan bom bunuh diri saat dikira hendak menyerahkan diri.

 

Sayangnya sosok Mitch Nelson kurang digali lebih dalam pada film ini, misalnya mengapa ia dipercaya sebagai kapten tim, selain itu karakter 9 orang anggota pasukan khusus lainnya juga kurang mendapat tempat dalam film ini selain Hal Spencer dan Sam Diller. Konon inilah salah satu kelemahan film yang diadaptasi dari novel yaitu kurang dapat memberikan latar belakang karakter secara detail. Bagi beberapa orang dialog yang panjang serta mengharukan dalam film ini mungkin juga dirasa terlalu membosankan.