Misteri Pembunuhan Pasangan Miliarder Kanada, Sherman

Menurut polisi, pasangan Sherman, miliarder asal Kanada, yang ditemukan tewas di rumah mereka di Toronto bulan lalu dibunuh karena mereka menjadi target aksi pembunuhan. Mayat Barry, 75 tahun, dan Honey Sherman, 70 tahun, ditemukan pada tanggal 15 Desember. Polisi mengatakan pada hari Jumat (26/1) bahwa tidak ada yang dituntut pada hari itu, dan menolak untuk mengomentari tersangka.

Siapakah Sherman?

Seorang siswa berbakat, Barry Sherman yang masuk di dunia perdagangan farmasi melalui laboratorium Empire milik pamannya dan bekerja untuk pamannya saat masih di universitas sebelum kemudian dia membeli perusahaan tersebut saat pamannya meninggal.Dia kemudian menjual Empire dan mendirikan Apotex, perusahaan yang menjadikannya miliarder dan sekarang mempekerjakan lebih dari 10.000 orang.

Tapi dia terlibat dalam perselisihan keluarga, dengan anak-anak pamannya yang mencari saham di Apotex, dengan alasan mereka telah ditipu.Tapi seorang hakim membatalkan klaim mereka pada awal tahun ini. Dia juga menghadapi penyelidikan apakah dia telah melakukan penggalangan dana untuk Justin Trudeau sebelum dia menjadi perdana menteri atau tidak.

Nyonya Sherman sendiri merupakan anggota dewan untuk beberapa rumah sakit, badan amal dan organisasi Yahudi.Pasangan tersebut memiliki empat anak dan telah memberikan jutaan dolar untuk amal.Pemakaman umum pasangan ini berlangsung pada tanggal 21 Desember dan dihadiri oleh banyak kalangan penting Toronto, serta pejabat seperti Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.

Kematian yang Mengejutkan

Barry Sherman, salah satu orang terkaya di Kanada, dan istrinya terkenal karena filantropi mereka, dan kematian mereka yang tiba-tiba mengejutkan banyak orang di negri Paman Sam.Laporan media beberapa hari setelah mayat pasangan tersebut ditemukan, dengan mengutip sumber-sumber polisi, mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki sebuah teori pembunuhan yang terlihat seperti tindakan bunuh diri.

“Saya tidak tahu dari mana asalnya,” kata detektif polisi Toronto, Susan Gomes kepada wartawan, dia menambahkan bahwa itu hanyalah salah satu dari beberapa teori yang sedang dipertimbangkan. Penyidikan lebih baru kasus ini juga mengemuka setelah ditemukannya laporan bahwa pada hari yang sama ketika pemilik Apotex farmasi raksasa yang didirikan oleh Barry Sherman, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO.

Detektif Gomes mengatakan bahwa pasangan tersebut terakhir terlihat hidup pada malam hari tanggal 13 Desember dan tidak memiliki komunikasi dengan keluarga setelah kejadian itu.Dia mengatakan bahwa penyidik ​​polisi tidak menemukan tanda-tanda orang yang masuk secara paksa dari jalur manapun ke akses rumah pasangan tersebut.Dua hari kemudian pasangan itu ditemukan berpakaian lengkap di tepi kolam renang “tergantung dengan ikat pinggang dengan posisi setengah duduk di dek kolam renang,” tambahnya.

Misteri Terus Berlanjut

Ms Gomes mengatakan bahwa polisi sampai pada kesimpulan bahwa mereka menangani pembunuhan ganda setelah “enam minggu bukti dan ulasannya”. Polisi yakin pasangan itu menjadi target pembunuhan. “Saya tidak akan membahas tersangka,” kata Ms Gomes.”Saya tidak akan membahas motif apa pun.”Dia mengatakan ada “daftar orang yang penting” yang mereka ajak bicara dalam penyelidikan yang sedang berlangsung.Polisi sampai sekarang merilis beberapa rincian Judi Online dalam kasus ini, hanya mengkonfirmasikan bahwa mereka berdua meninggal karena kompresi leher ligatur, atau pencekikan dengan bahan.

Sudah jelas kematian Barry dan Honey Sherman pada bulan Desember telah meninggalkan luka dan rindu keluarganya.Tapi penjelasan dan penyidikan bagaimana mereka meninggal masih menjadi misteri yang berlanjut hingga hari ini. Apalagi, diamnya pihak berwenang telah menciptakan banyak spekulasi mengenai apa yang terjadi pada pasangan terkemuka tersebut. Jawaban lengkap mengenai mister tersebut tidak mungkin bisa didapatkan dalam waktu dekat.Namun, detektif Toronto Susan Gomes menjelaskan ada banyak bukti bahwa polisi masih bisa menggali.

Pesona dari Joko Widodo dan Popularitas Partai

Hasil Survey terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny JA menunjukkan bahwa Partai Golkar menjadi satu-satunya partai yang mana trennya naik lebih dari 1 persen dalam periode Desember 2017 sampai dengan Januari 2018.

Partai Golkar Makin Lengket dengan Jokowi

Akhir tahun yang lalu, sebanyak 13,8% koresponden memutuskan untuk memilih Golkar apabila pemilihan legislatif dilakukan saat itu juga. Angka tersebut menjadi meningkat yakni menjadi 15,5% tahun ini.

Hendri Satrio, pengamat politik berpendapat bahwa hal itu terjadi karena sekarang ini Golkar tengah benar-benar sangat “dekat” dengan Presiden Jokowi. “Golkar ini memang imagenya sekarang sudah didekatkan dengan Jokowi. Sampai saat ini sosom calon presiden paling kuat ya Jokowi,” ungkap Hendri dikutip dari CNN Indonesia.

Kedekatan Partai golkar dengan Presiden Jokowi mulai terlihat semenjak Menteri Perindustrian, Airlangga Hartati menjadi Ketua Umum dari Partai Golkar. Ia menggantikan Setya Novanto yang terjerat kasus e-KTP (KTP elektronik). Kemudian juga masuknya Sekretaris Jenderal Golkar ketika itu Idrus Marham menjadi Menteri Sosial menggantikan Kofifah Indra Parawansa yang mana mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Timur 2018.

Kedekatan  ini dinilai semakin terlihat juga saat Jokowi “mempertahankan” Airlangga di Kabinet Kerjanya. Dia ketika itu menjadi satu-satunya pembantu presiden yang mana merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Pesona Jokowi

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ahil Psikologi Politik dari Universitas Indonesia yakni Hamdi Muluk. Menurut dirinya hal yang terjadi pada Golkar ini wajar karena adanya sistem personalisasi politik yang ada di Indonesia. Pesona tokoh publik seperti Presiden Jokowi bisa mengerek juga popularitas partai politik.

“Benar, kemarin Golkar turun sedikit karena mereka tergoncang dengan bermacam=macam kasus. Kemudian Airlangga kan naik dan mengusung Jokowi dan dia juga punya efek elektoral. Artinya ya, pesona Jokowi untuk sekarang ini masih tinggi,” ungkapnya.

Menurut Hamdi juga, penguatan popularitas dapat dirasakan partai politik yang lainnya jika menemukan tokoh yang populer di masyarakat. Hamdi sendiri menilai bahwa mengedepankan program bioskop online dan juga ideologi untuk mengikat pemilih yang ada di Indonesia tak begitu berhasil ketimbang popularitas.

“Basis ideologi jadi bentuk platform dan juga kebijakan partai itu kabur di masyarakat Indonesia. Orang Cuma melihat sosok. Hari ini Indonesia memanglah semakin mengarah ke personalisasi politik,” imbuhnya menjelaskan lagi.

Ia juga berpendapat bahwa hal ini adalah sebuah alarm buruk untuk perpolitikan Indonesia karena identitas dan ideologi partai makin kabur dan susah sekali dibedakan satu dengan yang lainnya karena adanya personalisasi politik. Namun hal itu bakal sulit dihentikan apabila partai politik masih sangat banyak dan bertambah terus menerus.

Di sisi yang lainnya, ia mengungkapkan bahwa Pilkada akan menjadi ajang taruhan kemenangan partai di dalam pemilihan legislasi dan pemilihan presiden tahun depan. Popularitas diyakini akan meningkat jika bisa menempatkan tokoh berkualitas di daerah. “Kalau partai mengaitkan dengan tokoh-tokoh yang sedang naik, maka ya bisa jadi bisa mengerek popularitas dan juga elektabilitas dari partai tersebut. Jadi partai ini berlomba untuk mendukung tokoh yang laku di masyarakat tentu saja, ideloginya cocok atau tidak, itu urusan belakang,” kata Hamdi.

Nampaknya persaingan partai dengan menggunakan tokoh publik yang sedang naik daun baim politisi atau tokoh publik lainnya akan digunakan beberapa partai yang kan unjuk gigi di Pilkada 2018 bulan Juni mendatang juga.